badik taeng dalam bundu
Alif ri poccikku
Alabbang ilalangngang ipantarang ipantarang
Ismun jalala kupare' batang kale'
Kalengku lannya ri atingku
Alabbang ilalangngang ipantarang ipantarang
Ismun jalala kupare' batang kale'
Kalengku lannya ri atingku
Atingku lannya ri nyawaku
Nyawaku lannya ri rahasiaku
Rahasiaku lannya ri Nur
Nur lannya ri Allah Ta'ala
Nyawaku lannya ri rahasiaku
Rahasiaku lannya ri Nur
Nur lannya ri Allah Ta'ala
Syahada'ku anjagai batangkalengku
Allah ta'ala anta'galaki tallasakku
Ali Muhammad anrokoki batangkalengku
Barakka Laa ilaaha illallah
Allah ta'ala anta'galaki tallasakku
Ali Muhammad anrokoki batangkalengku
Barakka Laa ilaaha illallah
Cahaya Nurun Muhammad
Kum payakum
Angngulappakko assulu
Kum payakum
Angngulappakko assulu
Lanjut ceritanya
>> setelah para tubarania mengucapkan tanda kesetiaan dan sumpah dihadapan
penduduk dan Sombayya ri butta gowa Sultan Hasanuddin berdiri dari
singgasananya lalu disusul oleh karaeng Bate'-batea, bate salapanga ri butta
gowa,Anrong gurua, beranjak meninggalkan baruga leko boddong menuju benteng
somba opu, tabuhan tunrung pakanjara pertanda perang akan dimulai, para
pemimpin tubarania menyusul dibelakang meninggalkan lekoboddong termasuk
panggulunna tubarania I Malarangang Bontojalling.
Namun kali ini I Malarangang bontojalling memacu kudanya menuju kampung bonto tangnga untuk meminta ijin kepada I Fatimah calon istrinya, wanita yang berjiwa kuat dan selalu membesarkan hatinya ketika peperangan didepan mata..ia mendapati calon istrinya duduk dipaladang seperti satu batin saling merindukan, I Fatimah pun tau yb datang I Malarangang bontojalling pria yg selalu terlintas dalam hatinya, pria yg selalu ada dalam kehidupannya pendekar kerajaan gowa, saling menunduk malu , tersenyum puas dan gembira
Wahai daeng kenapa daeng datang dgn tergopoh2 kenapa dikala senja begini "tanya I Fatimah kekasihnya ingin tau', gadis desa yang cantik bagaikan wajahnya bagaikan rembulan,rambut panjang laksana mayang mengurai, kebanggan daeng raga Ayahnya ia adalah anak satu2nya yang lama ditinggal mati ibunya.
Wahai adikku fatimah memberitahukan kabar yg penting, bahwa saya akan berangkat kemedan laga bertarung dengan kompeni belanda dan Mengawal I Mallombassi daeng mattawang, ini adalah kesepakatan para tubarania di lekobo'dong bersama karaeng Mandalle', karaeng campagayya dalam perjalanan sombayya dan berhadapan dgn kompeni yangnakan saling tikam, saling tombak, saling te'ba..bersambung
Namun kali ini I Malarangang bontojalling memacu kudanya menuju kampung bonto tangnga untuk meminta ijin kepada I Fatimah calon istrinya, wanita yang berjiwa kuat dan selalu membesarkan hatinya ketika peperangan didepan mata..ia mendapati calon istrinya duduk dipaladang seperti satu batin saling merindukan, I Fatimah pun tau yb datang I Malarangang bontojalling pria yg selalu terlintas dalam hatinya, pria yg selalu ada dalam kehidupannya pendekar kerajaan gowa, saling menunduk malu , tersenyum puas dan gembira
Wahai daeng kenapa daeng datang dgn tergopoh2 kenapa dikala senja begini "tanya I Fatimah kekasihnya ingin tau', gadis desa yang cantik bagaikan wajahnya bagaikan rembulan,rambut panjang laksana mayang mengurai, kebanggan daeng raga Ayahnya ia adalah anak satu2nya yang lama ditinggal mati ibunya.
Wahai adikku fatimah memberitahukan kabar yg penting, bahwa saya akan berangkat kemedan laga bertarung dengan kompeni belanda dan Mengawal I Mallombassi daeng mattawang, ini adalah kesepakatan para tubarania di lekobo'dong bersama karaeng Mandalle', karaeng campagayya dalam perjalanan sombayya dan berhadapan dgn kompeni yangnakan saling tikam, saling tombak, saling te'ba..bersambung
Daeng Raga muncul
dari dalam dan duduk disamping anaknya, karaeng yg angngali' terhadap Allah
Ta'ala, ......Mallarangang " sapanya dgn nada suara berat sy akan berikan
badikku badik yg berganggang emas dan bersarung gading, badik ini sering
digunakan oleh I Mallikang daeng Nyonri karaeng kanjilo yg berjuluk karaeng
matowayya..Baca disini tetang karaeng matowayya
Badik bertuah yg
jika dicabut dari sarungnya semua yg melihat akan silau matanya kecuali yg
berhati bersih, pamor badik memancarkan aura hijau jika ada yg menatapnya akan
jatuh tersungkur dihadapanmu I Mallarangang....
Pappasang ku I Mallarangang jika kamu cabut badik ini " Daeng raga mencabutnya perlahan dari sarungnya seketika I Mallarangang terkaget akan pamor badik tersebut tangan tua Daeng raga menahan bergetar, angin yg tadi tenang perlahan terisap oleh pamor badik berwarna hijau milik karaeng matowayya merubah suasana menjadi terang, dengan sigap Daeng raga memasukkan kembali kesarungnya...ambil ini I Malarangang saat engkau hadapi belanda jaga emosi aturlah taktik perangmu yg engkau miliki.
Wahai Daengku " I fatimah mengusap airmatanya pelan" bawalah badik ini bersama jiwaku, badik ini adalah jiwaku, badik ini adalah semangatku, kalungkanlah semangat jiwa ragaku dileher Daengku karna Allah Ta'ala, kelak kalau Daengku gugur dimedan laga kita akan gugur berdua dihadapan sombayya...ungkap I fatimah penuh haru dan tak dapat membendung airmatanya.
I Malarangang " sapa daeng raga" melangkahlah engkau ri benteng tangngayya ( tiang tengah dlm rumah) sebagai pusat kekuatan untuk menerima kekuatan dari badik " Dedde Taeng" matowayya, berisi " Pannumbulu, tallu lamaka nammattung, silamaka nassa'ra talang" Daeng raga duduk bersila dihadpan I Mallarangang pundak kokohnya dicengkram kuat oleh tangan kanan Daeng raga, tangan kiri memegang Badik "Dedde Taeng" yg bersarung gading. Tubug I Mallaragang bergetar hebat, keringat dari ubun2 nya yg memerah menahan panasnya pamor yg menembus sarung gading membuat tangan Daeng Raga berasap...
Tenaga dalam Daeng raga terkuras sudah hampir 2 jam mengisi tubuh I Mallarangang sebagai mana sy tulis sebelumnya bahwa Daeng Raga adalah guru para Tubarania pada masa pemerintahan "I Mannutungi daeng mattola karaeng lakiyung sultan malikussaid raja gowa yg ke 15 dan beliau diakui oleh Daeng sitaba karaeng Pattingalloang mangkubumi kerjaan gowa...>>>>Tabe sinampe pi seng pa'risimi' ulungku tabe
Pappasang ku I Mallarangang jika kamu cabut badik ini " Daeng raga mencabutnya perlahan dari sarungnya seketika I Mallarangang terkaget akan pamor badik tersebut tangan tua Daeng raga menahan bergetar, angin yg tadi tenang perlahan terisap oleh pamor badik berwarna hijau milik karaeng matowayya merubah suasana menjadi terang, dengan sigap Daeng raga memasukkan kembali kesarungnya...ambil ini I Malarangang saat engkau hadapi belanda jaga emosi aturlah taktik perangmu yg engkau miliki.
Wahai Daengku " I fatimah mengusap airmatanya pelan" bawalah badik ini bersama jiwaku, badik ini adalah jiwaku, badik ini adalah semangatku, kalungkanlah semangat jiwa ragaku dileher Daengku karna Allah Ta'ala, kelak kalau Daengku gugur dimedan laga kita akan gugur berdua dihadapan sombayya...ungkap I fatimah penuh haru dan tak dapat membendung airmatanya.
I Malarangang " sapa daeng raga" melangkahlah engkau ri benteng tangngayya ( tiang tengah dlm rumah) sebagai pusat kekuatan untuk menerima kekuatan dari badik " Dedde Taeng" matowayya, berisi " Pannumbulu, tallu lamaka nammattung, silamaka nassa'ra talang" Daeng raga duduk bersila dihadpan I Mallarangang pundak kokohnya dicengkram kuat oleh tangan kanan Daeng raga, tangan kiri memegang Badik "Dedde Taeng" yg bersarung gading. Tubug I Mallaragang bergetar hebat, keringat dari ubun2 nya yg memerah menahan panasnya pamor yg menembus sarung gading membuat tangan Daeng Raga berasap...
Tenaga dalam Daeng raga terkuras sudah hampir 2 jam mengisi tubuh I Mallarangang sebagai mana sy tulis sebelumnya bahwa Daeng Raga adalah guru para Tubarania pada masa pemerintahan "I Mannutungi daeng mattola karaeng lakiyung sultan malikussaid raja gowa yg ke 15 dan beliau diakui oleh Daeng sitaba karaeng Pattingalloang mangkubumi kerjaan gowa...>>>>Tabe sinampe pi seng pa'risimi' ulungku tabe
Setelah menerima
ilmu itu I Mallaragang menarik nafas dalam2 dan menghadapkan mulut keatas
sambil menyebut mantra dan doa diatas atas berserahnya seorang hamba akan
kebesaran Allah Ta'ala..
Sebelum meninggalkan rumah didepan paladangnga' Daeng raga menitip pesan pada I Mallarangang " ilmu itu telah kau ambil semua dan ilmu itu mampu mengobati orang yg terluka syarat utamanya jgn lupakan sholat 5 waktu" pesannya singkat
I Fatimah menghalangi langkah I Mallarangang " Daengku...suaranya sedikit berat, kamu telah menerima ilmu Ayahku berarti kamu telah menerima jiwa ragaku jadi dimanapun Daengku berada jiwaku dan semangatku ikut serta, harapanku marilah setiap malam membuka pintu Allah Ta'ala disanalah kita selalu bertemu Daengku...!
Adikku I Fatimah wanita yg patuh pada Allah Ta'ala, wanita teladan para bidadari tunggu kedatangan saya, kelak berdua kita menghadap kepadaNYA tentang kehidupan kita berdua nanti..setelah pamitan I Mallarangang memotongn persawahan dan menembus malam menuju Gantarang lalu membelok ke jatia dari jatia menuju masjid bontojalling menjelang dinihari.
Dimesjid bontojalling I Mallarangang mendapati semua panggulunna tau barania menantinya untuk sholat subuh , mendengarkan kitab gundul dan pappasang dari Anrong guru mokkinga ri taeng sebelum berlaga dimedan perang,....Nampak I Baso butta gantarang, I Cambang lompo tinggi Moncong, Karaeng Caddi-caddia, I Mappaturung Bontomajannang, I Mappatoba Bontotangnga, hadir pula I Dorra butta Gusung juga diramaikan beberapa ana guru dari kampung lambengi dari kaledupayya, dan dari benteng ana' gowayya menjaga sisi luar masjid bontojalling dgn kondisi badik siap hunus, penerangan obor bisa dihitung jari.
Sebelum meninggalkan rumah didepan paladangnga' Daeng raga menitip pesan pada I Mallarangang " ilmu itu telah kau ambil semua dan ilmu itu mampu mengobati orang yg terluka syarat utamanya jgn lupakan sholat 5 waktu" pesannya singkat
I Fatimah menghalangi langkah I Mallarangang " Daengku...suaranya sedikit berat, kamu telah menerima ilmu Ayahku berarti kamu telah menerima jiwa ragaku jadi dimanapun Daengku berada jiwaku dan semangatku ikut serta, harapanku marilah setiap malam membuka pintu Allah Ta'ala disanalah kita selalu bertemu Daengku...!
Adikku I Fatimah wanita yg patuh pada Allah Ta'ala, wanita teladan para bidadari tunggu kedatangan saya, kelak berdua kita menghadap kepadaNYA tentang kehidupan kita berdua nanti..setelah pamitan I Mallarangang memotongn persawahan dan menembus malam menuju Gantarang lalu membelok ke jatia dari jatia menuju masjid bontojalling menjelang dinihari.
Dimesjid bontojalling I Mallarangang mendapati semua panggulunna tau barania menantinya untuk sholat subuh , mendengarkan kitab gundul dan pappasang dari Anrong guru mokkinga ri taeng sebelum berlaga dimedan perang,....Nampak I Baso butta gantarang, I Cambang lompo tinggi Moncong, Karaeng Caddi-caddia, I Mappaturung Bontomajannang, I Mappatoba Bontotangnga, hadir pula I Dorra butta Gusung juga diramaikan beberapa ana guru dari kampung lambengi dari kaledupayya, dan dari benteng ana' gowayya menjaga sisi luar masjid bontojalling dgn kondisi badik siap hunus, penerangan obor bisa dihitung jari.
nrong gurutta
mokkinga ri taeng mulai membuka pappasanb sebelum sholat subuh dilaksanakan,
Annaku ngasenna baik para Tubarania maupun Masyarakat dari berbagai kampung
yang mencari ilmu Allah Ta'ala saya akan menyampaikan pemberitahuan dari
karaeng Bontomangngape' bahwa kekuatan dibagi dua dimana Karaeng
Bontomangngape' akan berlayar bersama laskar yg besar yang dipimpin I
Mallarangang karna Titah Sombayya ri gowa tiba2 melakukan perubahan Taktik dan
memimpin armada menuju Maluku, kepulauan Banda dan mungkin juga akan ke buton
karna Sombayy ri gowa mendengar Buton telah bersekutu dgn belanda pastinya
darah akan membanjiri perairan Maluku, Banda dan Buton Yg tersisa Tubarania
akan menjaga keutuhan Kerajaan gowa jgn sampai ada org dibelakang yg ingin
memecah belah ketuhan butta gowa dan kerajaan berdoa dalam sholat kalian semua
agar diberikan kekuatan dan rahmat Allah Ta'ala
Masyarakat gowa dan
barombong memadati pinggir pantai somba opu lautan manusia dari berbagai daerah
dan kampung, kapal dan perahu yg ratusan jumlahnya mulai diisi dgn bahan
makanan dan senjata memerlukan beberapa hari untuk bekal pasukan dan para
tubarania...nampak Kapal paling besar ditumpangi oleh I Mallombassi daeng
mattawang karaeng bontomangngape dgn pakaian kebesarannya berbalut paroci dan
lipa' garusu bagian atas dihiasi dgn passapu ulu ciri khas I Sombayya karaeng
bontomangngape.
Beberapa saat semua
bendera kebesaran dari berbagai daerah telah berkibar bendera "
Buleng-bulengna mangasa' , bendera kebesaran Pasukan Gallarang Tombolo, Macang
kebo' ka ri tallo " sabbe' lawanga ri komba' dan bendera dari daerah
Turayaya telah berkibar gagah dgn Para tubarania dgn tangan dipinggang memegang
badik bersarung dan parang berbalut kulit membuat para masyarakat dan keluarga
yg ditinggalkan begitu bangga mempunyai suami,ayah,saudara...yg begitu
terhormat membela kehormatan bangsa makassar dan sulawesi
Perjalanan perang
akan dimulai anak2 dipinggir pantai berurai airmata tanpa suara, para istri -
istrri menutup separuh mukanya dgn lipa' sa'be yg sedikit basah oleh
airmata..namun kebanggan dan tugas yg begitu besar menguatkan hati mereka
Ditengah2 kerumunan masyarakat yg memadati pantai tampak seorang wanita muda memanggil suaminya yg menaiki anak tangga kapal, dan memandang kearahnya " Daengku ingat selalu dalam perjalanan jgn emosi menghadapi balanda, karna emosi akan menghancurkan pikiran baik dan mengagalkan ilmu yg tersimpan,tenang dan hadapi segala kemungkinan yg terjadi, ingatki daeng rasamu belum melekat dibadanku, begitu pula rasaku belum melekat ditubuhmu baru tiga hari pesta kita usai, malam pengantin kita lalui bersama baru bebrapa langkah...andikku sayang sabarlah engkau menunggu, semiga Allah ta'ala akan mempertemukan kita nanti, tugas kerajaan adalah tugas mulia yang takternilai, kalau saya gugur dimedan laga maka taburkanlah bunga yg palinb engkau senangi dipantai pertemuan air dan daratan, sabarlah serahkan kepada Allah Ta'ala..
I Mallarangang mulai melakukan proses Appasili kepada para tabbalak tubarania dgn memercikkan air yg diambil dari bungung barania di bontobiraeng dan diminumkan hingga memicu keberanian para tubarania dari peluru dan meriam balanda.
Tenang tapj pasti , I Mallombassi daeng mattawang karaeng bontomangngape Sultan Hasanuddin Sombayyabri butta gowa yg ke 16, Memimpin paddoangang Patampulo a...Alif ri poccikku..
Ditengah2 kerumunan masyarakat yg memadati pantai tampak seorang wanita muda memanggil suaminya yg menaiki anak tangga kapal, dan memandang kearahnya " Daengku ingat selalu dalam perjalanan jgn emosi menghadapi balanda, karna emosi akan menghancurkan pikiran baik dan mengagalkan ilmu yg tersimpan,tenang dan hadapi segala kemungkinan yg terjadi, ingatki daeng rasamu belum melekat dibadanku, begitu pula rasaku belum melekat ditubuhmu baru tiga hari pesta kita usai, malam pengantin kita lalui bersama baru bebrapa langkah...andikku sayang sabarlah engkau menunggu, semiga Allah ta'ala akan mempertemukan kita nanti, tugas kerajaan adalah tugas mulia yang takternilai, kalau saya gugur dimedan laga maka taburkanlah bunga yg palinb engkau senangi dipantai pertemuan air dan daratan, sabarlah serahkan kepada Allah Ta'ala..
I Mallarangang mulai melakukan proses Appasili kepada para tabbalak tubarania dgn memercikkan air yg diambil dari bungung barania di bontobiraeng dan diminumkan hingga memicu keberanian para tubarania dari peluru dan meriam balanda.
Tenang tapj pasti , I Mallombassi daeng mattawang karaeng bontomangngape Sultan Hasanuddin Sombayyabri butta gowa yg ke 16, Memimpin paddoangang Patampulo a...Alif ri poccikku..
Selesai berdoa
Karaeng Bontomangngape karaeng yg berilmu pengetahuan,karaeng yg penuh
pertimbangan mulia, karaeng yg elok dalam tutur dan pangngadakkang, karaeng yg
angngali' pada Allah Ta'ala.
Para tubarania yg dipimpin I Mallarangang mengucapkan sumpah setia pada Karaeng ri sombayya ri butta gowa...dengan suara lantang ...>>>
Sombangku
Cini'- cini mami sallang karaeng
Buleng-bulengna Mangasa
Jangang tani pakurrua
Bukkuru' tani kadoa
Iya-iyanamo sallang karaeng
Rewangangang naikanne
Tappatetteya riada'
Kupolong tallu pokeku attangnga parang
Kupolong appaki selekku abbangkeng romang
Iya-iyanamo sallang karaeng
Baraniangngang na inakke'
Se're lipa' sallang kuruai
Warakanna parangtambung, timboranna bulussari
Nani cini' bura'nena bura'neya
Kamma tommo sallang karaeng
Layang-layang nionjong attangnga parang
Naribakkang ana' rante'
Nalollong ana' mariyang
Nampa kukana
Inakke minne jarina Buleng-bulengna mangasa'
Para tubarania yg dipimpin I Mallarangang mengucapkan sumpah setia pada Karaeng ri sombayya ri butta gowa...dengan suara lantang ...>>>
Sombangku
Cini'- cini mami sallang karaeng
Buleng-bulengna Mangasa
Jangang tani pakurrua
Bukkuru' tani kadoa
Iya-iyanamo sallang karaeng
Rewangangang naikanne
Tappatetteya riada'
Kupolong tallu pokeku attangnga parang
Kupolong appaki selekku abbangkeng romang
Iya-iyanamo sallang karaeng
Baraniangngang na inakke'
Se're lipa' sallang kuruai
Warakanna parangtambung, timboranna bulussari
Nani cini' bura'nena bura'neya
Kamma tommo sallang karaeng
Layang-layang nionjong attangnga parang
Naribakkang ana' rante'
Nalollong ana' mariyang
Nampa kukana
Inakke minne jarina Buleng-bulengna mangasa'
ijin share daengku, kisahnya sangat mengharuhkan.
BalasHapusIjin share daeng
BalasHapusIjin share daeng
BalasHapusIzin Daengku
BalasHapus